Feeds:
Tulisan
Komentar

repost: my sist and i

Kali ini seperti biasa penyakit awal bulan saya kambuh, ingin ngeblog tapi ndak tahu apa yang kan ditulis.  Saya repost saja tulisan satu tahun yang lalu; sebuah tulisan yang tertanggal 3 Nove ‘08,  hampir tepat satu tahun yach. Selamat membaca, tulisan yang judulnya udah saya gubah makin ngaco :D .

Balada My Sister dan Saya

Hari senin kliwon (wah nyebut neptu penulis nih) saya dan saudara perempuan saya di wawancara,

Wartawan(W) : di antara kalian sapa yang lebih dulu bisa naik sepeda?
*naik:=mengendarai

Saudara perempuan saya (Sa) : saya

W : Kalo sepeda motor?

Sa : saya

W : ehm…. kalo mobil?

Sa : saya

W : kalo naik bus?

Sa dan saya(S) : hehe… Belum bisa mengendarai.

W : gubraks! Oke tentu aja kalian pernah naik ya. Naik di sini didefinisikan naik sesuai KBBI! Naik bus tentu bukan hal yang spesial.
Kok mlongo?

S : apaan KBBI pak?

W : kamus besar bahasa indonesia! u know?
Kereta…. api, ya sapa di antara kalian yang pertama kali naik kereta api eksekutif dari stasiun Tugu?

Sa : saya

W : pesawat terbang?

Sa : saya

W : OK ok! Cukup! Saya ganti pertanyaannya. Yang pertama keluar negeri sapa?

Sa : saya

Wartawan memijit-mijit dahinya.

W : Kamu!
Sambil menunjuk saya.

S : Iya! sapa lagi kalo bukan kamu! Apa yang lebih dulu kamu daripada Sa?

S : saya lebih dulu lahir, pak!

***

Ya, itulah kenyataaaan! Meski saya dan adek saya berselisih tepat 16 bulan, karena tanggal lahir kami sama. Tapi dia hampir selalu melakukan hal-hal lebih dulu dari saya. Termasuk akademik! -Tidak pantas saya sebut di sini, itu sama dengan meminderkan saya:-(.

nb : ini buat mengenang pertanyaanmu Sa, “mb besok abis lulus mo ngapain?”

**di tahun ini beberapa “siapa yang duluan” itu kesampean jua. Saya, akhirnya naek pesawat juga :p. luv u, sist.

off

Awal saya bikin blog ini, saya mentargetkan untuk minimal sebulan sekalilah saya nulis. Anehnya tiap kali kesempatan untuk menulis itu tiba, yang terjadi adalah saya tidak tahu apa yang harus saya tulis. Bengong di depan layar. Saya seakan terpaksa untuk menulis, meletakkan deret-deret huruf agar bermakna. Akibatnya, liat … tulisan saya lebih dari sekedar melompat-lompat, atau belok tanpa sein, tapi benar-benar tak bermakna dan tak mengena. Tulisan saya tidak mengalir!

Di lain kesempatan, saat saya membaca blog milik orang lain, membaca berita, melihat sekitar…. ingin rasanya ikut berbagi apa yang saya rasakan. Menuliskankannya,  dalam notasi huruf. Tapi saat itu juga… tiada waktu dan tempat yang berletter S,  saya taksekalipun berhasil menuliskannya.

Hanya saat saya diatas motor, menerobos dinginnya pagi, menikmati hijaunya alam, dua asa tersebut bersatu, saya menulis di di ruang takbernama. Merangkai rasa dengan deretan huruf. Salahkah saya?

Note: akhirnya………… saya menyalahgunakan blog ini!

diungguh dari http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/09/07/09392592/peminat.smk.seni.masih.sepi...

Hari jumat yang lalu. Rumah saya kedatangan tamu istimewa, murid-murid ibu saya yang sekaligus juga murid les saya dan ibu. Rasanya surprise aja mengetahui keberadaan sekolah baru mereka. Binar-binar santun dan senang berhasil lulus SMP terlihat jelas di wajah mereka… dan salah satu diantaranya adalah bernama Windu. Murid ibu yang satu ini mewarisi darah dalang dari bapaknya, sampai-sampai saat bocah ini kelas VIII SMP, ada nadzar kalau anak-anak kelas IX berhasil lulus 100%, maka akan ada pentas wayang kulit. Bocah satu ini emang telah memantapkan hati untuk masuk ke SMKI(Sekolah menengah karawitan Indonesia) sejak lulus. Dia berceloteh (lebih tepatnya aku dan ibu yang “nanggap” dia) satu angkatan muridnya hanya berdua. Awalnya bertiga yang satu dari Temanggung, tapi ndak kerasan untuk kost. Murid yang satunya juga dari Samigaluh, putra seorang “wiyogo”.

Sore… sehabis ashar…, “Kulonuwun”
“nggih”
O… ada tiga murid bapak. Giliran bapak saya yang asyik ngobrol.

“Pak, digoleki,” itulah kode saya buat memangil bapak ke warung. Melihat murid-murid bapak yang diam… akhirnya saya memancing dengan pertanyaan, “sakniki sekolah theng pundi?”

Jiah mimpi apa saya tadi malam…, ternyata di depan saya duduk temennya si Windu yang hanya seorang, Restu namanya… O ini to masterpiecenya sekolah bapak yang sering bikin lakon-lakon atraktif.

Mungkin saya aneh… gitu aja kok seneng. Keputusan yang mereka ambil di usia muda, membuat saya iri. Iri dengan keteguhan mereka memilih sekolah jurusan Pedalangan, yang meskipun anak dalang terkenal tho… lum pasti mau. Walau hanya berdua :p lagi. Kalau belajar pelajaran umum(matematika, basa inggris, bahasa indo) harus nggabung ke jurusan lain. Keinginan mereka untuk nguri-uri kabudayan jawa,… membuat saya mengacungkan jempol.

Saya semakin taksabar untuk melihat mereka suluk, sabetan, mempertontonkan kepandaian mereka memainkan kulit-kulit kerbau di pentas nasional dan internasional.

Note: sayang, takberhasil memotret mereka… mungkin mereka sadar photo mereka akan naik harganya :p

 

 

 

note: gambar diungguh dari http://kesehatan.kompas.com

Surakarsa Soldiers
Their duty was to guard Prince Adipati Anom (Royal Prince) when the “Grebeg” ceremony was held. They protected the “Gunungan” in the back row. Their flag is recognised as “Pare Anom”.

Nyutro Soldiers
Not as a war soldier, one of their duties and responsibilities were as a tamping guard in the ceremony. They also ensured the safety of the king if he got in throne. These soldiers should be talented in dancing. Besides, they must meet some criterias, such as; slim body, fair skin, and a knight soul inside. Their flag is famously known as “Padang Ngisep Sari”.

Patangpuluhan Soldiers
There were only 40 soldiers altogether. However, they have extraordinary courage, respite, and power. They were reliable on the war field. “Cokroboyo” is their flag.

"prajurit kraton ngayogyokarto hadiningrat"

beberapa pin prajurit kraton ngayogyokarto

Wirobrojo Soldiers
They were the front-liners during the war. They were also known as “Lombok Abang” (Red Chilli) because they wore the red color hat. Their flag’s name is “Gula Klapa”.

Mantrijero Soldiers
They were one of the palace ministers who also acted as judge. Their duty was to guard the Sultan (King of Java) when “Jumenengan Dalem Nata”. The flag’s name is “Purnomo Sidi”.

Daheng Soldiers
They came from Sulawesi. They were Sulawesinese who became the Dutch prisoners. They were being isolated in Java Island and took the aristocratic surname in Sulawesi same with the lord surname in Java. The flag’s name is “Baning Sari”.

Prawirotomo Soldiers
They were the most powerful soldiers. When Prince Mangkubumi attacked the Dutch with ±1000 soldiers, they always won in every fighting. The flag’s name: “Geni Raga”.

Jogokaryo Soldiers
Their role was as a “Tunggak Kemit” in the ceremony. They should be prepared should there be any unexpected cases happened. They were expected to deal with them properly. The flag’s name: “Papasan”.

Bugis Soldiers
They came from Sulawesi. Their role was to guard “Pepatih Dalem” in the “Kepatihan” during the Dutch colonization. Their presence did not include the authority of “Pengageng Kawedanan” soldier palace. Currently, they are working as a “Gunungan”’s guard when the “Grebeg” ceremony is held. The flag’s name: “Wulandadari”.

Ketanggung Soldiers
The Soldiers were responsible of security in the palace, worked in the prosecution, and also guarded the Sultan (King of Java) when he visited to outside the palace. The flag’s name: “Cokro Swandono”.

Dari rincian di atas, sepertinya ada hubungannya dengan nama jalan-jalan di Jogja, misal jogokaryo –> jokokaryan(kampung paling religius yang aku temui di jogja), patangpuluhan –> jalan patangpuluhan(pojok beteng kulon ke barat,… moga ndak bingung membacanya), prawirotomo –> jl, prawirotaman (tempatnya turi-turis bule nginep di Jogja, jarenya sih buat yang medium class, kalo yang backoper backpacker tahulah di mana…), mantrijero –> mantrijeron, bugis –> bugisan, wirobrojo–>wirobrajan. Kalau diperhatikan lebih lanjut, dan diasumsikan bahwa nama jalan tersebut karena pada jamannya prajurit-prajurit tersebut bertempat tinggal sesuai daerah yang terwakili namanya sekarang, maka letaknya berada persis di luar beteng. Nha, ada yang tahu prajurut yang lain di mana?

Note:  sebelum berpikir bahwa sayalah yang menulis dalam bahasa Inggris, saya klarifikasi saja,… saya hanya menulis(bayangpun saya menulis dengan pulpen ;p) artikel di atas dari sebuah souvenir berupa 11 pin nama prajurit yang saya temukan dengan susah payah di Mirota Batik, dan selanjutnya diedit oleh tim ahli:p

Jembatan Kebon Agung

bersaing dengan asap Merapi

bersaing dengan asap Merapi

Di atas Sungai Progo,  hanya ada hitungan jari jembatan yang mampu dibangun Pemerintah untuk menghubungkan dengan kabupaten yang lain di Yogyakarta.

1. Jembatan Srandakan menghubungkan Srandakan(Bantul) dengan Galur (Kulon progo),  terdiri dari dua jembatan,  sehingga masing-masing jembatan satu arah.  Jembatan ini juga merupakan bagian dari jalur Daendels, jalur yang digadang-gadang pemerintah untuk mengatasi kemacetan di Jalur Pantai Selatan.

2. Jembatan Bantar menghubungkan Bantar (Bantul kalo nggak Sleman, maaf lum dicek!) dengan Sentolo. Jembatan ini juga terdiri dari dua badan dan merupakan bagian dari Jalur Pantai Selatan.

3. Jembatan Ngapak menghubungkan Ngapak (Sleman) dengan Kenteng, Nanggulan Kulon Progo. Sekitar tiga tahun ini di selatan jembatan ini sedang dilakukan proyek-entah-apa-namanya, karena tiap proyek telah jalan setengahnya, derasnya aliran sungai Progo berhasil menghancurkan.  Sering dipakai penelitian anak Geodesi dan Geologi UGM.

Tiga jembatan berikut menghubungkan dengan Jateng.

4. Jembatan Gantung Bligo, lebarnya hanya 2 mater dan hanya boleh dilintasi sepeda motor dan sepeda, pejalan kaki dan hewan ternak :p.

5. Jembatan Kedung Talun, Ancol.

6. maaf saya lupa namanya, tapi jembatan yang satunya merupakan bagian dari jalur Wates-Muntilan

Nha, jembatan terakhir yang dibangun adalah Jembatan Kebon Agung yang menghubungkan Podjok, Kebon Agung,  Minggir, Sleman dengan Kisik, Banjararum, Kalibawang, Kulon Progo.

di atas jembatan saat air pasang

di atas jembatan saat air pasang

saat surut

saat surut

Jembatan Kebon Agung dilihat dari wilayah Sleman

Jembatan Kebon Agung dilihat dari wilayah Sleman

Specialnya jembatan ini adalah ketinggian dan letak jembatan sehingga diperoleh pemandangan yang elegan.  Dibanding dengan jembatan yang lain yang lurus membujur timur-barat, jembatan ini rada serong, tenggara-barat laut.  Maka tak mengherankan, jika mobil-mobil dan sepeda motor yang melewati jembatan ini dengan niat mencari jalan alternatif memilih menghentikan mobilnya untuk sekedar… foto-foto denagn latar gunung Merapi dan Merbabau, atau Sunset di balik perbukitan Menoreh.

Note: sebagai warga Kulon Progo saya marah! Kenapa semua nama jembatan bukan nama wilayah di KULON PROGO :p!

Tulisan Sebelumnya »