Di sebuah warung makan gang sempit di Jogja.
“Gimana kabarnya Ma?”
“Baik.”
“Sudah lama saya takjumpa dirimu Ma”
“Hai…hai…teknologi semakin berkembang, ada facebook, ym, skype, gtalk”
“Tapi saya tetap tak bisa memastikan ekspresi mukamu Ma”
“Musti ya?” meragukan kemampuan internet si teman.
“Kadang kita bisa bohong, bilang baik-baik saja, it’s okey, padahal nyatanya banyak yang mesti dikorbankan.”
“Walah-walah, berlagak maju perang saja dirimu. Lha terus gimana muka saya sekarang?”
“Biasa”
“Nah lo” Ini orang berargumentasi tapi ndak jelas gini.
Dia pandang muka saya, “Hmmm boleh ga saya minta waktumu, tolong dong urusin ….”
“Bisa,” saya jawab sekenanya.
“Emang dirimu ndak sibuk”
“a…a….,” memalingkan muka sementara jari tangan saya bergerak tak jelas.
“Makanya pikir dulu baru bilang iya,” potongnya.
“Dirimu kan sahabat terbaikku”
Sambil senyum-senyum, “Iyah, sahabat yang baik itu bisa ngertiin orang lain. Dirimu berusaha ngertin diriku ampe rela berkorban gitu, sementara aku bakal jadi salah satu orang dalam list hidupmu yang nggak bisa ngertiin dirimu”
“Hey…hey dirimu menjebakku ya.”
Kami pun tertawa lepas.




